AnaUhibbukaFillah Bab2
Happy Reading guys..:)
3 bulan kemudian
S
|
udah 3 bulan sejak kepulangan dari Surabaya aku tak
menerima satu email pun dari Kak Fahri. Email yang ku coba kirim padanya tidak
ada yang dibalas. Klub menulis cukup sunyi tanpanya. Mendadak aku merasa
kehilangan, tapi aku tidak tahu arti kehilangan ini.
Ku buka kembali email
dari laptop, masih berharap ia akan membalas pesan-pesanku. Hasilnya masih
tetap sama, kosong.
MuhammadFahmi (tanpa subjek)
Assalamualaikum..
Apa ini? Dari mana
Fahmi menemukan emailku? Ku coba memutar otakku untuk mengingat-ingat dari mana
Fahmi mendapatkannya. Aku bukan orang yang senang membagikan sosial mediaku ke
orang-orang. Akhirnya, ku putuskan untuk membalas pesan dari Fahmi.
Waalaikumsalam..
Tau dari mana emailku?”
Tau dari mana emailku?”
Fakta yang cukup
mengejutkan untukku, ia langsung membalas pesanku dalam waktu kurang dari 2
menit.
Dari
blog karya-karya sastramu. Tulisan-tulisan kamu, aku suka beberapa puisimu.
Jantungku berdebar.
Entah karena apa, yang pasti aku bukan pengidap penyakit jantung. Mungkin
karena dia yang mengetahui blog dan membaca karyaku, ataupun mengkin karena ia
membalas pesanku.
Terima
kasih. Kenapa kirim pesan?
Dia kembali membalas
kali ini lebih cepat.
Karena mau nanya, Mau
jadi panitia untuk reuni akbar gak?
Jujur. Aku merasa
bingung. Dia mendadak datang menghubungiku, cukup canggung untukku membalas
pesannya. Ku tutup laptop dan berbaring di kasur, menatap langit-langit kamar
yang dihiasi bintang-bingtang dari origami.
Pikiranku melayang jauh
ke masa lalu, semua kenangan tentangnya mendadak terputar kembali.
*
Muhammad Fahmi. Teman
sekelas sekaligus teman berantam saat kelas 2 SMP. Dia jahil, pintar fisika dan
matematika. Punya banyak mantan, baik, keren, nyeselin. Selama satu tahun, aku
menghabiskan waktu dengannya, pulang sama, mampir di lapangan terus beli pecel
dan es jagung, terkadang beli bakso bakar. Kalau udah hujan pasti bakalan main
air.
Dari kecil, aku bukan
tipe cewek yang senang bersentuhan dengan cowok. Meski berteman dengan banyak
cowok, aku tidak suka jika mereka memegang tangan ataupun kepala ku.
Saat itu Aku, Fahmi,
Ridho, Gita terlibat dalam satu kelompok. Kami dipanggil ke kantor untuk
mengerjakan tugas yang diberikan Guru IPS. Aku tidak sadar ternyata Fahmi
membaca dairyku. Hampir satu buku yang dia baca, ku rampas buku itu dengan
sekuat tenaga agar tak tertahan oleh tangannya.
Wajah Fahmi terlihat
kaget, aku tidak peduli, yang aku pikirkan hanyalah dairyku.
“Sini, balikin, belum
selesai bacanya, tanggung sikit lagi” ingin ku pukul wajahnya hingga hancur tak
berbentuk. Tapi ku tahan mengingat ini ruang guru. Aku yang salah. Kenapa harus
membawa buku itu disini, tapi aku juga takut meletakannya di kelas karena bisa
saja temanku mengambilnya.
“Jadi selama ini suka
sama si Ri-” hampir saja buku ini melayang ke wajahnya kalau ia tidak segera
berhenti bicara.
“Kenapa? Takut ya
ketauan” ejeknya dengan wajah sinis.
“Jangan kasih tau”
“Berani bayar berapa?”
ku tatap matanya dengan tajam. Tapi ia tersenyum manis, tidak, itu senyum manis
yang palsu, dia sedang mengejekku.
“Git, lanjutin ya,
tinggal sikit lagikan, aku balik ke kelas” kataku pada Gita yang sedang
menempel origami di kertas karton.
“Kalau kamu pergi, aku
pastikan dia akan tau semuanya” kutatap wajahnya dengan kesal. Aku tidak
perduli meski ia memberitahukan isi dairy itu pada semua orang.
Ku langkahkan kaki
pergi, saat di depan pintu ia berteriak cukup kencang.
“RIDHO” aku rasa,
mulutku berbohong mengatakan aku tak perduli, nyatanya aku berlari dan membekap
mulutnya dengan tanganku. Ia kembali tersenyum manis yang palsu. Menyebalkan.
Ku harap, tak ku temukan orang sepertinya lagi.
Ku berlari keluar kantor disusul suara bel pulang
sekolah yang berbunyi. Ku susun semua buku tulisku dan berlari keluar gerbang
sekolah. Menyetop angkutan yang lewat.
Hari-hari selanjutnya
dia semakin menyebalkan.
Dia selalu mengancamku
akan memberitahu pada Ridho kalau selama ini aku menyukainya. Hingga akhirnya,
aku berhenti untuk takut dengan ancamannya. Dan dia benar-benar melakukannya.
Sejak itu ku putuskan untuk terus membencinya.
Kenaikan kelas 3, aku
tak lagi satu kelas dengannya. Dia tak lagi pulang dengan jalan kaki seperti
saat dulu pulang denganku. Ia pulang dan pergi menggunakan sepeda motor,
terkadang di antara ayahnya.
Kebencian itu semakin
bertambah saat ia berpacaran dengan teman baikku yang bernama Dira. Aku
mutuskan untuk tak berteman dengan Dira, bukan karena dia pacaran dengan Fahmi
tapi karena dia berbohong. Dia selalu mengatakan dia tidak akan pernah pacaran,
itu janjinya pada ibunya dan juga Allah, tapi nyatanya saat Fahmi mengungkapkan
perasaanya ia menerima Fahmi tanpa berpikir dulu.
Seminggu mereka
pacaran, aku kembali dekat dengan Dira, kebiasaanku yang mengunjungi kelas Dira
saat tidak ada guru kembali kulakukan. Dira satu kelas dengan Fahmi. Di kelas,
aku dan Dira selalu bercerita tentang boy/girlband korea, drama korea juga. Aku
baru tahu, ternyata Dira bisa menulis dan membaca tulisan hangul Korea. Aku
jadi belajar bahasa korea dengan Dira dan membeli kamus bahasa Korea.
Kembali, aku dibuat
kecewa, dengan perasaan yang labil. Di depan orang banyak, Dira mengatakan.
“Kita gak usah belajar
itu lagi ya”
“Kenapa?” tanyaku
bingung.
“Karena, kata Fahmi,
itu gak penting, ngapain juga belajar gituan, gak masuk nilai” aku terdiam,
cukup lama hingga akhirnya aku tersenyum. Lebih tepatnya, pura-pura tersenyum.
“Iya” aku berlalu
pergi.
Kenapa? Kenapa harus
dia? Mungkin, yang dikatakannya benar. Tapi, aku tetap merasa sakit. Aku tidak
menyukai mereka berdua.
Setelah kelulusan. Aku
mendengar, teman-temanku mengatakan. Sebenarnya Fahmi menyukaiku, tapi aku
tidak peka. Aku menjawab dengan cuek. ‘Kalau pun aku peka, mau diapain? Aku gak
akan pacaran, aku ta’aruf’.
Seseorang memberikan
lagu Tangga yang judulnya aku tidak ketahui. Tapi liriknya seperti ini.
Maafkanlah bila ku selalu
Membuatmu marah dan benci padaku
Ku lakukan itu semua
Hanya tuk buatmu bahagia
Mungkin ku cuma tak bisa pahami
Bagaimana cara tunjukkan maksudku
Aku cuma ingin jadi terbaik untukmu
Selanjutnya saat di SMA
aku tersadar, ternyata ini Cinta Datang Terlambat. Benciku hilang jadi kagum
saat kulihat dia mulai update tentang agama dan dia sering menang olimpiade.
Tapi aku sadar, dia sudah jauh di depanku, aku tak akan bisa menggapainya. Saat
masuk perguruan tinggi, dia diterima masuk PTN di Bandung.
Sejak itu, ku putuskan
untuk mengikhlaskannya. Membiarkan dia jauh pergi. Meski terkadang, ia masih
mampir didalam mimpi dan ingatanku.
*
Suara bel Apartemant,
memaksaku bangun. Siapa yang berkunjung? Sudah jam berapa ini? Ku tatap jam
dinding kamar, ternyata sudah jam 7 malam. Aku melewatkan sholat Ashar dan
Magrib.
“Siapa?”Tanyaku dengan
suara khas bangun tidur.
Kak Fahri.
“Assalamualaikum,
calon” katanya sambil tertawa.
Tanpa diizinkan, ia melangkah
masuk seolah ini adalah rumahnya.
“Waalaikumsalam. Calon?
Calon apa?” tanyaku menghampiri di sofa. Ia meletakan beberapa bungkus makanan
dan berbagai tas belanjaan. Dia pergi ke dapur mengambil beberapa piring dan
gelas, lalu balik kembali ke dapur dan mengambil jus mangga di kulkas. Apa-apan
ini?
“Aku baru baca email
kamu. Maaf ya, segitu kangennya. Aku pergi ke jepang ikut pameran lukis.
Niatnya, mau kasih tau kamu waktu di Surabaya. Tapi gak jadi, aku mau liat,
kamu kangen aku gak saat aku jauh” dia menaik turunkan alis matanya. Buat kesal
saja ni orang.
“Siapa yang kangen?
Nggak kok” kataku cuek.
Ia membawa nasi goreng
jamur bakar kesukaanku.
“Gengsi gitu, bilang
kangen aja pakai boong. Iyain aja deh”
“Ini, makan dulu” aku
tersenyum menerima nasi goreng itu.
“Kak”
“Ya?”
“Heem, gak jadi”
“Kebiasaan ni orang,
miscal aja. Isi pulsa sana”
“Hehehe.. mau cerita
tapi gak jadi”
“Kenapa? Jangan bilang
gak ada alasannya” bola matanya membesar. Aku tertawa melihatnya, ia sudah tahu
apa yang akan ku katakan.
“Tadi bilangnya calon,
calon apa?”
“Calon istri dan juga
calon ibu untuk anak-anakku”
“Ngada-ngada ih. Entah
apa ya” kataku pura-pura marah. Tapi aku masih tetap tersenyum.
“Hahaha.. kenapa? Gak
mau? Entar nyesal lo. Udah ganteng, pintar, baik, rajin sholat dan menabung,
bisa ngaji, anak orang kaya, kurang apa coba?”
“Sombong ih”
“Ini bukan sombong, kan
kasih tau ke kamu”
“Terserah. Tapi
sayangnya gak berani bawa mobil, jangankan bawa mobil, masuk ke dalam mobil aja
takut. Cemen.” Aku memberikan tanda jempol ke bawah. Dia tertawa.
“Hanya itu, tapi kalau
kami suruh aku berantam dengan sepuluh orang sekaligus, aku gak akan takut”
“Hanya itu? Tau gak?”
“Gak tau”
“Ih nyeselin yak, aku
belum cerita”
“Iya iya, ceritalah”
“Kekurangan itu seperti
kejahatan”
“Maksudnya?”
“Iya, beribu kebaikan
tapi satu kejahatan, kebaikan yang kita buat itu hilang yang diingat hanya
kejahatan. Sama seperti tadi, kakak sebut semua kelebihan kakak, tapi tetap
ajakan itu kalah dengan kekurangan kakak yang takut mobil”
“Terus? Aku harus apa?”
“Coba lawan rasa takut
itu ya kak. Jangan cepat-cepat, pelan-pelan aja. Yang penting hasilnya kakak
gak takut lagi”
“Temani aku melawannya”
“Ada Allah yang akan
selalu temani kakak, tanpa kakak minta. Kalau kakak lupa, aku tak suka berduaan
seperti ini”
“Kitakan gak
ngapain-ngapain, tetap aja. Itu mengundang zina”
“Makin sayang, udah
siap belum dihalalin?”
“Tabok mau? Mulutnya,
pengen dijahit” ia tertawa.
Selesai makan, ia pergi
pulang. Aku merasa senang saat bersamanya, juga merasa nyaman. Tapi ini belum
bisa dibilang aku cinta diakan? Nikmati saja. Asal tak keluar batas, tidak
masalah bukan? Ku harap, aku bisa melupakan Fahmi dihatiku. Menjadikannya hanya
sebagai kenangan.
Oke, sampai sini dulu
ya..
Terima kasih sudah baca
ceritaku. Tunggu terus kelanjutan cerita ini. Lop yu.
Bye bye..

Komentar