Ana Uhibbuka Fillah BAB 3




Minggu siang, Raesha membatalkan janjinya yang akan datang ke klub menulis. Ia pergi mengunjungi Panti Asuhan. Kemarin, ia tidak sengaja bertemu dengan Windy, temannya yang suka korea, sama seperti Dira. Windy bilang panti itu didirikan oleh beberapa alumni dari SMPku dulu. Termasuk Windy, Dira, Fahri, Ridho, Gita, Aji dan lainnya yang tidak bisa ku sebutkan satu per satu. Semuanya ada 20 orang. Dan aku ingin mengunjungi panti itu, bukan karena ingin bertemu Fahmi, tapi karena aku suka kegiatan sosial.

Motor yang ku kendarai berhenti dialamat yang diberikan Windy. Tempat itu cukup besar. Ada banyak pohon rindang, terlihat bersih dan rapi, tempat ini ditutupi pagar yang cukup tinggi. Dari luar pagar aku dapat melihat, ada banyak hiasan dari origami yang digantung di pohon, juga ada lukisan-lukisan alam, aku tertarik untuk bergabung disini.

Tapi kenapa tempat ini tampak sunyi?

Ku hubungi Windy dengan nomor yang diberikannya kemarin. Tersambung.

“Halo” sapa Windy.

“Ini aku Raesha”

“Oh, ada apa Re?”

“Aku di panti, kenapa tidak ada orang disini?” tanyaku

“Oh, maaf Re, aku gak bilang. Hari ini aku dan yang lainnya ngajak anak-anak ke puncak. Maaf ya” aku menatap kecewa. Ya sudahlah, ini salahku yang tidak bilang ingin ke panti.

“Oke gak papa. Lain kali aja”ucapku.

“Tapi Fahmi dan Gita ada disana. Kamu bisa tekan bel yang ada di dekat pagar. Nanti pagarnya bakalan terbuka. Kamu bisa menemui mereka di dalam. Atau mau aku kirimkan nomor Fahmi?” aku berpikir sebentar. Apa aku harus menerima tawaran Windy? Ku rasa tidak masalah. Hanya untuk kali ini. Setelah ini aku akan menghapus nomornya. Akhirnya ku jawab Ya. Dan Windy mengirim nomor Fahmi setelah sambungan telpon terputus.

Aku masih berdiri di depan gerbang. Menimbang-nimbang pikiran, apakah aku harus bertemu Fahmi atau tidak. Jika aku memilih bertemu dengannya, maka akan ada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Jika aku memilih tidak menemuinya, maka aku hanya kan menunda pertemuan ini. Baiklah. Kuputuskan untuk pergi tanpa menemuinya.

Pintu panti mendadak terbuka. Aku bingung harus melakukan apa. Saat-saat yang paling aku benci adalah saat aku merasa panik, karena aku akan menjadi seperti orang bodoh.

“Raesha” itu suara Gita. Aku masih ingat suara cempreng itu. Dia masih sama ternyata, aku sangat ingin bertemu dan memeluknya. Gita. Si cewek gendut. Gidut, Gita Gendut, itu ejekan yang kami lontarkan untuknya. Ku tolehkan wajahku ke arahnya. Ternyata dia tak lagi gendut, tapi suaranya masih sama, cempreng.

Dia berjalan menghampiriku. Berjalan dengan wajah yang sangat bahagia, penuh dengan senyum. Pintu gerbang terbuka. Dia berlari memelukku. Sangat erat hingga aku merasa sesak.

“Kangen RE” ucapnya melepaskan pelukan.

“Aku juga” ucapku.

“Kenapa gak masuk? Ayo masuk. Pintu ini bisa terbuka dengan kamu menyentuh bel itu” ucap Gita menunjukkan bel yang ada di dekat gerbang.

“Hanya terbuka saat Alumni kelas kita yang menekannya. Ridho yang rancang, aku juga nggak ngerti. Udah ayo masuk. Tadi Windy yang bilang kalau kamu kemari” aku diam bingung ingin menjawab apa.

“Ayo masuk, malah bengong” aku mengikuti kata Gita, membawa motorku masuk. Gita mengajakku duduk di pondok yang ada dibelakang panti. Tempat ini benar-benar bagus.

Gita memberikan segelas jus jeruk dan juga kue untuk cemilan. Jika ada yang bertanya dimana keberadaan Fahmi. Tolong, hilangkan pertanyaan itu. Aku tidak akan bertanya pada Gita tentang cowok itu. Aku berharap ia tidak akan bertemu denganku walaupun kami berada ditempat yang sama.

“Tempat ini sebelumnya rumah milik Om dan Tante Fahmi. Tapi telah pindah ke Bandung jadi rumah ini tidak ada yang menempati, dan Fahmi memilih mengubahnya menjadi panti asuhan. Ridho yang meranjang model. Dia kuliah arsitektur, jadi dia yang ngerti begituan. Selama ini kami sering ngumpul bareng, tapi kami gak tau kalau kamu tinggal di Jakarta sampai Fahmi yang cerita. Dia bilang dia ketemu kamu di Bandung, bersama seorang cowok berambut panjang. Itu benar?” aku tersenyum dan mengangguk mengiyakan pertanyaannya.

“Siapa nama cowok itu?”

“Fahri”

“Pasti dia keren, anak seni ya?”

“Iya, kok tau?”

“Anak seni biasa rambutnya gondrong” aku hanya tersenyum.

“Fahmi juga bilang. Katanya kamu sombong, gak menyapa dia saat di Bandung dan gak balas pesan dia dari Email. Dan aku baru tau kalau kamu nulis cerita diblog. Bagus, aku suka, lanjut ya” aku tersenyum malu. Menutup wajahku dengan tangan.

“Boleh aku gabung ikut disini?” tanyaku menatap Gita. Gita tersenyum.

“Boleh, kenapa nggak?”

“Terima kasih”

“Besok datanglah kemari jika ada waktu”

“Iya, kalau sempat, besok aku berkunjung”

“Aku akan memberikan biodata kita ke kamu, dan selanjutnya kamu harus membuat biodata kamu disana”

“Iya”

“Sebenarnya Fahmi sedang ada disini, tapi dia lagi istirahat bersama anaknya”

Aku menatap kaget. Mulutku sampai terbuka sedikit karena mendengarnya. Anak? Aku tidak salah dengarkan? Ku normalkan kembali wajahku, berpura-pura tidak peduli padahal aku sangat ingin bertanya. Jantungku memompa begitu cepat, aku sampai bisa mendengarnya. Jadi benar, wanita yang aku lihat saat di Bandung itu adalah istrinya. Aku merasa sesak mendengarnya, rasa sesak itu mendadak menyerangku.

“Kenapa hanya diam? Seharusnya kamu nanya sesuatu” ucap Gita dengan tawa.

“Apa yang harus aku tanya?”Gita tersenyum, menggenggam lenganku. Aku menatapnya bingung.

“Anak angkat, bukan kandung. Dia belum nikah. Jika saat ini si kecil bangun, kamu akan menyukai anak itu” apa ini? Kenapa aku tidak bisa bicara sekarang. Aku menatap Gita, meminta penjelasan lebih.

“Maksudnya?”

“Jadi, cewek yang kamu temui bersama Fahmi di Bandung, dia adalah sepupu Fahmi. Namanya Khadijah, dia kuliah di mesir. Saat itu dia sedang libur kuliah jadi balik ke indo. Khadijah kuliah kedokteran di Mesir. Dia menjadi relawan untuk korban pemboman di Gaza. Saat itu dia bertemu dengan si kecil, berlimuran darah dalam pelukan ibunya yang tertimpa runtuhan, Khadijah pikir bayi itu meninggal, karena bayi itu tidak menangis, tapi ternyata bayi itu tidak meninggal. Karena posisi ibunya adalah telungkup memeluk anaknya agar runtuhan itu tidak menimpa si kecil. Ayah dan ibunya meninggal. Khadijah memutuskan untuk merawat bayi itu. Dengan susah payah ia meminta ijin dan akhirnya diperboleh. Itulah, kenapa si kecil jadi anaknya Fahmi. Meski hanya anak angkat, Fahmi sangat menyayanginya, dia seperti seorang ayah sungguhan”

“Tapi si kecil tidak bisa mendengar dan bicara, kaki kirinya diamputasi” aku ingin menangis saat mendengarnya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana anak sekecil itu mengalaminya. Hatiku benar-benar tersentuh.

“Siapa namanya?”

“Fahmi memberi namanya Raesha”

“Raesha?”

“Iya, awalnya aku pikir ini seperti film india. Tapi kata Fahmi, Raesha itu artinya pemimpin, dan Fahmi ingin gadis kecil itu jadi pemimpin sepertimu meskipun ia tidak sempurna”

Salahkah aku jika aku jatuh cinta kembali dengan Fahmi? Salahkah aku jika aku ingin ikut merawat Raesha kecil? Jika itu salah, aku tidak peduli, manusia berhak memberi pendapat.

“Raesha” aku mendongak menatap Fahmi. Cowok ini terlihat semakin tampan, wajahnya bersih dan bersinar. Ada seorang gadis kecil dalam gendongannya. Aku tersenyum, senyum sedih karena mengabaikannya. Dia berjalan menghampiri aku dan Gita.

“Apa kabar?”tanyanya.

“Baik. Boleh aku gendong si kecil?” tanyaku meminta izin. Ia tersenyum, senyum yang ku rindukan.

“Biasanya kalau baru bangun tidur dia tidak mau digendong selain sama aku. Tapi mari kita coba” Fahmi memberikan Raesha kecil padaku. Aku menggendongnya dengan perasaan bahagia.

“Cantik, kamu cantik” ucapku sambil ngayun-ayunkannya dalam gendonganku, dia tertawa, ada suaranya, tidak seperti tawa orang yang bisu, hal ini membuatku merasa aneh, benarkah gadis kecil ini tidak bisa bicara? Aku tidak peduli, dia bisa bicara ataupun tidak, aku menyukai gadis kecil ini. Aku melakukannya berulang-ulang, dan sesekali ia kembali mengeluarkan suara tawa dan senyum. Mata Raesha si gadis kecil sangat bagus, berwarna biru. Seharusnya ia menjadi gadis cantik secantik namanya.

Ku kecup kening Raesha penuh sayang, hingga aku menitikan air mata. Ya Allah, lindungi gadis kecil yang ada dalam gendonganku ini. Beri dia bahagia, jangan limpahkan padanya kesedihan, dia masih kecil untuk merasakan sakit. Tempatkan kedua orang tuanya ditempat orang beriman. Jadikan gadis kecil ini menjadi anak yang sholeha, yang akan membangun rumah untuk kedua orang tuanya di surga. Amiinn..

Terima kasih untuk kalian yang mau baca ceritaku ini, aku harap kalian suka dan jangan lupa vote dan coment ya. Aku sayang readers seperti aku sayang Raesha kecil.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Soal MAnajemen Pendidikan

Critical Book Review Manajemen pendidikan