AnaUhibbukaFillah Bab 1
Bab
1
H
|
ujan turun membasahi kota Jakarta. Tidak deras,
hanya rintik-rintik. Meski begitu, air sudah mulai tergenang di jalanan. Entah
kapan masyarakat sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan. Kalau sudah
begini, pemerintah yang disalahkan. Dari jendela apartement, ku tatap
masyarakat yang berlalu lalang menggunakan mobil dan motor, sebagian orang
sibuk mencari tempat teduh di halte agar tidak kena rintikan hujan.
Lama aku berdiri
dibelakang bingkai jendela menunggu hujan reda, hingga akhirnya tercium juga bau
tanah yang lembab. Setelah hujan cukup reda, aku pergi meninggalkan apartement
menuju klub menulis.
Aku senang menulis,
baik itu puisi, cerita, dongeng, pantun, atau sajak. Tapi dari itu semua, sajak
yang paling sulit aku tulis. Aku harus benar-benar fokus untuk mendapatkan
rangkaian kata yang indah.
Selama ini, banyak
novel fiksi dan nonfiksi yang ku tulis, hanya saja tak satupun yang aku publish
ke blog atau buku. Alasannya, aku tidak punya cukup keberanian untuk mengirim
naskahku.
Setelah sampai ditempat
klub nulis, aku disambut dengan pelukan
hangat Aqila. Gadis keturunan Indo-Malaysia. Cukup heran melihatnya, awalnya ia
menggunakan bahasa yang begitu baku, tapi setelah setahun tinggal di ibukota
Aqila mengubah cara bicaranya menjadi Lo-Gue.
“Ada apa ni? Kenapa
peluk-peluk?” tanya ku bingung. Aqila tertawa, ia cantik ketika tertawa ataupun
tersenyum.
“Gue baru jadian sama Eza”
ucapnya dengan senyum yang semakin mengembang, Eza adalah cowok yang sangat
Aqila kagumi di kampus. Eza cowok yang tampan dan baik, aku pikir ia tidak akan
mau berpacaran, ternyata aku salah. Selama ini, banyak kaum hawa yang diam-diam
mengaguminya, tapi tak satupun yang menarik perhatian cowok itu. Dan Aqila
adalah pemenangnya, sulit dipercaya.
“Selamat ya, Aqila”
“Thanks, habis ini, gue
akan traktir lo”
Di klub menulis biasanya kami belajar mengenai cara penulisan yang baik,
terkadang juga berunding tentang karya para anggota menulis, dari semua
anggota, hanya karyaku yang belum di bukukan, karena aku tak mengizinkannya.
Kulihat, Kak Fahri
datang menghampiriku yang sedang bercerita dengan Aqila. Aku suka lihat
gayanya. Rambutnya panjang, pakai kaus dan kemeja, serta celana jeans yang
sobek di lutut.
Kak Fahri adalah anak
Seni di kampus, cukup banyak fansnya. Ia juga sering ikut drama dan ngelati
drama. Biasanya aku yang nulis naskahnya, cukup sulit untuk merayuku agar mau
menulis naskah. Tapi ia ahli meluluhkan hatiku. Dia itu konyol, cuek kalau sama
orang yang tidak ia kenal, kadang-kadang sok ramah, lucu, aneh, penuh misteri,
pandai jaga rahasia, susah ditebak juga.
Belum pernah aku
melihatnya kencan. Sebagian orang mengatai dia gay, tapi aku suka ketika jalan
dengannya, dia asik sebenarnya.
Kadang-kadang ia
mengajakku pergi untuk membeli alat lukis ataupun membeli properti untuk drama.
Seleranya benar-benar tinggi. Kak Fahri takut naik mobil, itu sebabnya ia
selalu menggunakan motor, kecuali ketika ingin pergi denganku kami pergi naik
sepeda. Aku tidak suka jika berduaan naik motor, jadi kami naik sepeda
sendiri-sendiri.
“Hai” sapanya dengan
senyum lebar.
“Hai juga”Jawabku
samaan dengan Aqila.
“Raesha, ada acara
nggak entar malem?” tanyanya sambil duduk disampingku.
“Mau pergi makan si
bareng Aqila”
“Nape kak?” tanya
Aqila.
“Kaka mau ajak Raesha
ke Bandung malam ini. Boleh?” tanyanya meminta restu pada Aqila. Kenapa pada
Aqila? Disinikan aku yang mau diajak pergi, seharusnya dia minta restuku.
“Boleh aja kalau Raesha
mau” ia menatapku dengan senyum manisnya, senyum yang selalu membuatku luluh
untuk mendengar ucapannya.
“Kasih aku alasan
kenapa aku harus ikut?” ia terlihat berpikir, lebih tepatnya memikirkan apa
alasan yang cocok.
“Hem, karena besok hari
yang sangat penting”
“Penting?”
“Iya, besok kawan
menikah, dan ga mungkin pergi sendiri, pasti bakalan kena bully”
“Aqila, gimana?
Alasannya ga keren, tolak aja ya?” tanyaku pura-pura.
“Hemm, gimana kalau aku
ajak jalan-jalan keliling Bandung?”
“Udah pernah”
“Oke, naik gunung ke
kawah ijen”
“Hem,,”
“Jalan-jalan ke
surabaya dua hari penuh”
“Oke, deal” aku tertawa
senang sambil memeluk Aqila, aqila ikut tertawa.
“Resek, ih. Entar malam
jam 7 aku jemput di kostan”
“Oke sipp”
Setelah itu aku pulang
ke kost, mengisi tas ranselku dengan pakaian untuk travel. Ada yang belum aku
ceritakan disini.
Aku berasal dari
Sumatra Barat, ayah dan ibu bukan asli orang minang. Ayah berdarah batak dan
ibu berdarah jawa. Di jakarta aku tinggal sendiri, kuliah disalah satu
universitas negeri, kuliah jurusan sastra yang sekarang sudah masuk semester 4.
Berhubung kali ini lagi libur kuliah selama sebulan, jadi aku putuskan untuk
ikut ke Bandung dan travel selama dua hari penuh ke Surabaya.
Jam 8 malam, Kak Fahri
datang menjemputku. Tidak, bukan hanya fahri, ada tiga mobil yang berhenti di
belakangnya. Kak Fahri turun dari motornya dan menghampiriku.
“Kamu naik mobil bareng
mereka ya, biar aku naik motor” ia mengambil tas ransel yang ada di pundakku
lalu memberikannya pada Kak Bimo.
“Hemm,, hati-hati ya”
ia tersenyum manis. Aku berlalu masuk ke mobil. Satu mobil ada dua orang. Tidak
banyak yang aku kenal, hanya Reina yang ada disebelahku dan Rizki yang menyetir
mobil.
*
Jam 1 siang kami gerak
ke acara pernikahannya kak Dilla dengan Kak Reza. Sebenarnya aku tidak kenal
dengan mereka, tapi Kak Fahri tanpa dimintai menjelaskan semuanya padaku.
Aku menerima fakta yang
cukup mengejutkan dari pengakuan Kak Fahri. Ternyata, kak dilla adalah
mantannya saat SMA dulu. Itu sebabnya ia mengajakku kesini, karena gengsi.
Aku masih saja tertawa
lucu mengingatnya. Aneh, pikirku.
Lama kami disana sampai
jam 6 sore, kecuali aku dan Kak Fahri, pulang ke Jakarta. Mendadak langkahku
terhenti ketika melihat pria yang wajahnya sangat familar diingatanku. Fahmi.
Dia orang yang sampai saat ini masih jadi alasanku untuk tak jatuh cinta dengan
seorang pria. Karena cinta dalam diam ini.
Fahmi ikut menatapku,
ku coba tersenyum, tapi hasilnya jadi senyum yang amat getir. Hatiku kecewa,
melihat ia datang bersama seorang wanita. Ku tatap wanita itu dari atas ke
bawah. Ia menggunakan pakaian Syar’i, serba tertutup, tak jauh beda denganku. Tapi,
aku seperti pernah melihat wajah wanita itu.
Ku coba mengingat nama
wanita itu, tapi hasilnya nihil. Kak Fahri menatapku bingung. “Kenapa?”
tanyanya pelan.
“Oh, nggak. Ayo” aku
berjalan tanpa niat menyapanya. Senyum itu, aku merindukannya. Fahmi, apa kabar.
“Raesha, kita ke
surabaya naik motor aja ya?”
“Raesha” aku tersadar
ketika Kak Fahri menyentuh lenganku. Ada banyak yang ku pikirkan tentang Fahmi,
sungguh, aku tak berniat melanjutkan perjalan ke surabaya dengan Kak Fahri.
“Kenapa kak?”
“Naik motor”
“Iya”
*
Jam 2 pagi, kami sampai
di kawah ijen. Terlihat keindahan yang terasa hambar di hatiku. Seharusnya,
tempat ini jadi menyenangkan untukku.
Kak Fahri memberikan
secangkir teh hangat, jaket bombernya ia sampirkan di bahuku.
“Kamu kenapa?”
Aku menatapnya dengan
senyum yang sangat kaku .
“Emang aku kenapa?”
tanyaku balik.
“Karena jumpa dia ya?”
“Dia?”
“Fahmi”
“Kakak kenal Fahmi?”
“Enggak. Belum kenalan.
Emang dia siapa?”
“Bukan siapa-siapa,
Cuma pernah mampir di hati”
“Dan masih bertahan
sampai sekarang?”
“Iya”
“Aku cemburu” ku tatap
mata Kak Fahri dengan jantung yang berdebar. Aku tidak salah dengarkan? Dia
bilang dia cemburu? Kenapa dia harus cemburu?
“Apa yang membuat dia
tetap stay di hati kamu?”
Ku tundukan kepalaku,
mencoba menarik napas, sambil berpikir.
“Dia orang pertama yang
ku cintai, orang pertama yang memberiku cinta. Tapi cintaku datangnya
terlambat, setelah dia pergi aku baru sadar. Sekarang, aku hanya bisa menjadi
pengagum rahasianya”
“Sejak kapan?”
“SMA”
“Aku tidak ingin
menggantikan posisinya sebagai orang yang kamu kagumi secara diam-diam. Aku
ingin membuat kamu mencintaiku tanpa diam-diam, dan tetap membiarkan kamu jadi
pengagum rahasianya sampai kamu bosan”
Aku tak tahu harus
menjawab apa, ku putuskan hanya tersenyum.
Kebiasaanku saat travel
adalah tidak membawa kamera apapun. Aku sibuk merekam keindahan alam ini di
dalam otak, yang nantinya akan aku jelaskan sendiri pada buku-buku ku. Travel
tanpa kamera jauh lebih menyenangkan.
Aku tidak perlu mencari
objek yang cantik, karena semua ini telah tersimpan dalam memori kepala, yang
tidak satu orang pun bisa menghapusnya, karena ia tersimpan dalam kenangan yang
indah.
Surabaya.

Komentar